Mengapa kita sering mengeja “praktik” dengan “praktek”?

Tampaknya karena huruf “i” pada kata bahasa Belanda praktijk — yang merupakan sumber serapan kata praktik — dieja sebagai “é”.  Dengarkan audio berikut ini:

Dulu bahasa kita menyerap kata berdasarkan pelafalan. Kini kita menyerap berdasarkan penulisan. Yang kita serap adalah tulisan praktijk, bukan pelafalannya. Itulah sebab bentuk yang baku adalah praktik, bukan praktek.

Apa perbedaan antara “misalnya” dan “misalkan”?

Kata “misalnya” dipakai untuk menyebutkan contoh, sedangkan “misalkan” dipakai untuk pengandaian. Kata “misalnya” bersinonim dengan contohnya dan umpamanya, sedangkan “misalkan” bersinonim dengan andaikan dan umpamakan. Berikut contoh penggunaan kedua kata tersebut:

  1. Banyak orang yang mau menjadi kekasihmu, misalnya aku.
  2. Misalkan aku sebagai kekasihmu.

Saya — dan sepertinya kebanyakan penutur Indonesia lain — lebih sering memakai kata misalnya.

Dari mana asal “benang merah”?

Dari idiom bahasa Belanda de rode draad (rood = merah, draad = benang).

Beberapa idiom lain yang kita serap dari idiom bahasa Belanda:

  • isapan jempol = iets uit zijn duim zuigen (duim = jempol, zuigen = mengisap)
  • hitam di atas putih = iets zwart op wit zetten (zwart = hitam, wit = putih, zetten = menaruh)
  • penumpang gelap = zwarterijder (zwart = hitam, gelap, rijder = penumpang)
  • darah biru = blauw bloed hebben (blauw = biru, bloed = darah, hebben = mempunyai)

Sumber: Kusno, G. (2012, Apr 7). Warisan Idiom Khas dari Bahasa Belanda [Blog].

Kapan menyebut selamat pagi, siang, sore, dan malam?

Jangan khawatir. Tidak ada ketentuan yang terlalu mengikat tentang hal ini. Meski, tentu saja, jangan katakan “selamat malam” saat matahari sedang ada persis di atas ubun-ubun, kecuali bila Anda memang sedang bermaksud melawak.

Ratih Rahayu mencoba memberi definisi batasan jam pengucapan selamat berdasarkan makna pagi, siang, sore, dan malam yang tercantum di dalam KBBI. Berikut definisi beliau: Selengkapnya →

“HUT Ke-69 RI” atau “HUT RI Ke-69″?

HUT Ke-69 RI. Kata “Ke-69″ menerangkan “HUT” (hari ulang tahun), bukan “RI” (Republik Indonesia). Oleh sebab itu, “Ke-69″ sebaiknya diletakkan langsung setelah “HUT”.

Frasa “HUT RI Ke-69″ bermakna ganda:

  1. “HUT RI” yang “ke-69″: Benar.
  2. “HUT” untuk “RI ke-69″: Salah. Republik Indonesia hanya satu.

Namun, menurut Kang Uu, “HUT Ke-69 RI” bisa juga disalahartikan, “Ada 69 RI dan semuanya berulang tahun.” Ketaksaan memang sulit dihindari dan akan selalu menjadi sumber banyolan bagi lawakan tunggal.

perinci atau rinci?

Menurut KBBI IV (2008), ejaan yang baku adalah perinci, bukan rinci.

pe·rin·ci v, me·me·rin·ci v menyebutkan (menguraikan) sampai ke bagian yg sekecil-kecilnya: ia berusaha ~ pendapatannya bulan yg lalu;

Namun, KUBI III Poerwadarminta (2003) mencantumkan rinci, merinci. Perbedaan rujukan inilah yang membuat para penutur acap bingung mana ejaan yang baku.

pencinta atau pecinta?

Bahasa Indonesia memiliki dua awalan yang mirip, yaitu peN- dan per-. Awalan yang pertama bertalian dengan awalan meN-, sedangkan awalan yang kedua bertalian dengan awalan ber-. Contohnya, pengajar adalah orang yang mengajar, sedangkan pelajar adalah orang yang belajar. Jadi, pencinta adalah orang yang mencintai sesuatu, sedangkan pecinta adalah orang yang bercinta. Nah, makna mana yang dimaksud? Saya pencinta bahasa Indonesia dan juga pencinta kopi.