Apakah dwilingga, dwipurwa, dwiwasana, dan trilingga itu?

Dwilingga, dwipurwa, dwiwasana, dan trilingga adalah jenis pengulangan atau jenis kata ulang hasil proses tersebut. Istilah-istilah ini dipungut dari bahasa Jawa, yang mungkin menyerapnya dari bahasa Sanskerta: dwi berarti dua, lingga berarti kata/bentuk dasar, purwa berarti awal, wasana berarti akhir, dan tri berarti tiga (Robson & Wibisono, 2002). Semua kata tersebut ditulis serangkai karena dwi- dan tri- adalah bentuk terikat.

Definisi dari tiap-tiap istilah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Dwilingga adalah pengulangan seluruh leksem atau, secara sederhana, kata. Contoh: rumah-rumah, makan-makan, pagi-pagi.
  2. Dwipurwa adalah pengulangan suku pertama pada leksem dengan pelemahan vokal. Contoh: tetangga, lelaki, sesama.
  3. Dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang leksem. Contoh: pertama-tama, perlahan-lahan, sekali-kali.
  4. Trilingga adalah pengulangan onomatope tiga kali dengan variasi fonem. Contoh: dag-dig-dug, cas-cis-cus, dar-der-dor.

Selain keempat jenis pengulangan tersebut, ada lagi satu jenis pengulangan yang disebut dwipurwa salin suara. Jenis ini adalah pengulangan leksem dengan variasi fonem,  misalnya mondar-mandir, pontang-panting, dan bolak-balik (Kridalaksana, 2007).

Rujukan:

Robson, S., & Wibisono, S. (2002). Javanese English Dictionary. Singapore: Periplus Editions (HK) Ltd.
Kridalaksana, H. (2007). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

1 komentar

  1. Saya masih menyesuaikan diri dengan “tetiba” dan “gegara”, padahal saya terbiasa dengan “tetamu” dan “pepohonan”, pun “rerumputan”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *