Kapan huruf miring digunakan?

Huruf miring atau cetak miring pada dasarnya digunakan untuk membedakan suatu unit bahasa. Pedoman EYD secara spesifik menyebutkan tiga penggunaan huruf miring:

  1. Untuk nama atau judul terbitan (mis. buku, majalah, dan surat kabar) yang dikutip dalam tulisan, misalnya: Artikel itu dimuat dalam surat kabar KOMPAS.
  2. Untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata, misalnya: Huruf pertama kata abad adalah a.
  3. Untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia, misalnya: Ia men-download pedoman EYD dari situs Badan Bahasa. Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia (misalnya kudeta dan korps) tidak perlu ditulis dengan huruf miring.

Fungsi huruf miring untuk membedakan ini mirip dengan fungsi tanda petik. Berikut perbedaan dan persamaannya:

  1. Nama terbitan ditulis dengan huruf miring, tetapi judul bab di dalamnya ditulis dengan diapit tanda petik. Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan ditulis dengan diapit tanda petik.
  2. Pengkhususan kata bisa dilakukan dengan huruf miring atau tanda petik, meskipun tampaknya tanda petik lebih ditujukan untuk mengkhususkan istilah yang kurang dikenal.

Oh, ya. Dalam tulisan tangan atau ketikan, cetak miring dapat diganti dengan garis bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *