Mengapa kita sering mengeja “praktik” dengan “praktek”?

Tampaknya karena huruf “i” pada kata bahasa Belanda praktijk — yang merupakan sumber serapan kata praktik — dieja sebagai “é”.  Dengarkan audio berikut ini: Dulu bahasa kita menyerap kata berdasarkan pelafalan. Kini kita menyerap berdasarkan penulisan. Yang kita serap adalah tulisan praktijk, bukan pelafalannya. Itulah sebab bentuk yang baku adalah praktik, bukan praktek.

Selengkapnya →

perinci atau rinci?

Menurut KBBI IV (2008), ejaan yang baku adalah perinci, bukan rinci. pe·rin·ci v, me·me·rin·ci v menyebutkan (menguraikan) sampai ke bagian yg sekecil-kecilnya: ia berusaha ~ pendapatannya bulan yg lalu; Namun, KUBI III Poerwadarminta (2003) mencantumkan rinci, merinci. Perbedaan rujukan inilah yang membuat para penutur acap bingung mana ejaan yang baku.

Selengkapnya →

Sumatera atau Sumatra?

KBBI IV menggunakan ejaan Sumatra dalam lampiran “Nama Daerah Tingkat I dan II di Indonesia”, tetapi sebagian besar peraturan perundangan, situs pemerintah pusat, dan situs pemerintah daerah menggunakan ejaan Sumatera. Karena digunakan dalam banyak produk hukum, seharusnya ejaan Sumatera-lah yang lebih baku.

Selengkapnya →

ke luar atau keluar?

Baik ke luar maupun keluar dapat dipakai dan memiliki makna masing-masing. Pada kata keterangan ke luar, kata ke berfungsi sebagai kata depan yang menyatakan arah atau tujuan, misalnya pindah ke luar. Pada kata kerja keluar, ke- berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja, dengan makna sbb.:

Selengkapnya →

kedua atau ke dua?

Kedua. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (mis. pihak ketiga) atau kumpulan (mis. kesebelas pemain). Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 […]

Selengkapnya →

Bagaimana cara penulisan dan apa fungsi tanda hubung dan tanda pisah?

Meskipun kedua tanda baca ini tampak mirip karena sama-sama berupa garis horizontal, tanda hubung (hypen) dan tanda pisah (dash) memiliki cara penulisan dan fungsi yang berbeda. Untuk mengingat perbedaan keduanya, kita ingat saja sifat tanda pisah yang lebih spesifik. Tanda pisah lebih panjang daripada tanda hubung dan khusus digunakan untuk menyisipkan keterangan tambahan atau memberi makna “sampai dengan/ke”.

Selengkapnya →

S-1 atau S1?

S-1, S-2, S-3, D-1, D-2, dll. Pedoman EYD tidak secara spesifik mengatur hal ini, tetapi pedoman tersebut menunjukkan bahwa tanda hubung digunakan untuk merangkaikan singkatan berhuruf kapital maupun angka dengan unsur lain yang tidak sejenis: (1) kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital, misalnya hari-H, (2) “ke-” dengan angka, misalnya peringkat ke-3, dan (3) angka dengan “-an”, misalnya dasawarsa […]

Selengkapnya →

Adakah perbedaan bunyi “f” dan “v” dalam bahasa Indonesia?

Ada. Perbedaan pengucapan fonem f dan v adalah pada bergetar atau tidaknya pita suara dalam proses pembunyian: f tak bersuara (pita suara tidak turut bergetar), sedangkan v bersuara (pita suara turut bergetar). Perbedaan ini akan terasa sewaktu tangan diletakkan di leher: pengucapan f tidak menyebabkan getaran, sedangkan v menyebabkan getaran. Baik f maupun v termasuk bunyi labio-dental geseran […]

Selengkapnya →

Bagaimana cara menulis singkatan dan akronim?

Pertama, pahami dulu perbedaan antara singkatan dan akronim: akronim dapat dianggap dan dilafalkan sebagai suatu kata, sedangkan singkatan tidak. Akronim tidak memerlukan tanda titik karena dianggap sebagai kata, sedangkan singkatan pada umumnya (dengan beberapa pengecualian) memerlukan tanda titik di antara setiap huruf atau di akhir singkatan. Baik singkatan maupun akronim menggunakan kapitalisasi sesuai dengan konsep […]

Selengkapnya →