“HUT Ke-69 RI” atau “HUT RI Ke-69″?

HUT Ke-69 RI. Kata “Ke-69″ menerangkan “HUT” (hari ulang tahun), bukan “RI” (Republik Indonesia). Oleh sebab itu, “Ke-69″ sebaiknya diletakkan langsung setelah “HUT”. Frasa “HUT RI Ke-69″ bermakna ganda: “HUT RI” yang “ke-69″: Benar. “HUT” untuk “RI ke-69″: Salah. Republik Indonesia hanya satu. Namun, menurut Kang Uu, “HUT Ke-69 RI” bisa juga disalahartikan, “Ada 69 […]

Selengkapnya →

Bagaimana cara menulis kata ulang?

KBBI mencantumkan dua entri untuk konsep yang mirip, yaitu bentuk ulang dan kata ulang. Bentuk ulang diperikan sebagai bentuk yang mengalami perulangan, seperti sia-sia atau laba-laba, sedangkan kata ulang dimaknai sebagai kata yang terjadi sebagai hasil reduplikasi, seperti rumah-rumah, tetamu, atau dag-dig-dug. Pedoman EYD mencantumkan kedua istilah ini dan menggunakan istilah bentuk ulang sebagai judul bagiannya. Saya belum […]

Selengkapnya →

mengubah atau merubah?

Mengubah. Menurut KBBI, kata ini bermakna (1) menjadikan lain dari semula, misalnya ia ingin mengubah kebiasaannya; (2) menukar bentuk, misalnya ia mengubah hidungnya melalui operasi plastik; dan (3) mengatur kembali, misalnya mengubah susunan kalimat. Kata dasarnya adalah ubah, bukan rubah. Kata berawalan u mendapat awalan meng-, sedangkan kata berawalan r mendapat awalan me-.

Selengkapnya →

Apakah Hukum D-M itu?

Hukum D-M (singkatan dari Diterangkan-Menerangkan) adalah kaidah dalam tata bahasa bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa, baik dalam kata majemuk maupun dalam kalimat, segala sesuatu yang menerangkan selalu terletak di belakang yang diterangkan. Istilah ini dicetuskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia(1949). Hukum ini memiliki beberapa pengecualian, misalnya pada kata bilangan, kata depan, […]

Selengkapnya →

Mengapa konjungsi “jika” dan “maka” tidak boleh digunakan sekaligus dalam satu kalimat?

Kata “jika” dan “maka” termasuk kelompok konjungsi (kata sambung) yang digunakan untuk menghubungkan induk kalimat dan anak kalimat pada kalimat majemuk bertingkat (subordinatif). Pada kalimat jenis ini, anak kalimat berisi gagasan penjelas dan didahului oleh konjungsi, sedangkan induk kalimat berisi gagasan utama tanpa didahului oleh konjungsi. Kalau ada dua kata sambung, kedua bagian kalimat menjadi anak kalimat […]

Selengkapnya →