Apa asal kata “indehoi”?

Indehoi berasal dari bahasa Belanda in het hooi, yang secara harfiah berarti di atas jerami (Robson, 2004). in·de·hoi v cak asyik bermesraan: pd malam Minggu banyak sekali anak muda yg — di Ancol Kata asoi (adj enak; nikmat) diduga terbentuk sebagai akronim dari asyik indehoi. Namun, di Palembang, kantong asoy berarti kantong plastik. Tolong jaga […]

Selengkapnya →

pencinta atau pecinta?

Bahasa Indonesia memiliki dua awalan yang mirip, yaitu peN- dan per-. Awalan yang pertama bertalian dengan awalan meN-, sedangkan awalan yang kedua bertalian dengan awalan ber-. Contohnya, pengajar adalah orang yang mengajar, sedangkan pelajar adalah orang yang belajar. Jadi, pencinta adalah orang yang mencintai sesuatu, sedangkan pecinta adalah orang yang bercinta. Nah, makna mana yang […]

Selengkapnya →

mengapa atau kenapa?

Mengapa dan kenapa adalah kata ganti (pronomina) untuk menanyakan sebab atau alasan. Keduanya bisa saling menggantikan, walaupun mengapa umumnya dianggap lebih formal daripada kenapa. Mengapa Anda tidak datang kemarin? Kenapa kamu tidak datang kemarin?

Selengkapnya →

ke luar atau keluar?

Baik ke luar maupun keluar dapat dipakai dan memiliki makna masing-masing. Pada kata keterangan ke luar, kata ke berfungsi sebagai kata depan yang menyatakan arah atau tujuan, misalnya pindah ke luar. Pada kata kerja keluar, ke- berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja, dengan makna sbb.:

Selengkapnya →

kedua atau ke dua?

Kedua. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (mis. pihak ketiga) atau kumpulan (mis. kesebelas pemain). Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 […]

Selengkapnya →

Apakah dwilingga, dwipurwa, dwiwasana, dan trilingga itu?

Dwilingga, dwipurwa, dwiwasana, dan trilingga adalah jenis pengulangan atau jenis kata ulang hasil proses tersebut. Istilah-istilah ini dipungut dari bahasa Jawa, yang mungkin menyerapnya dari bahasa Sanskerta: dwi berarti dua, lingga berarti kata/bentuk dasar, purwa berarti awal, wasana berarti akhir, dan tri berarti tiga (Robson & Wibisono, 2002). Semua kata tersebut ditulis serangkai karena dwi- dan tri- […]

Selengkapnya →