35 komentar

  1. Om ivan, saya jengah dengan maraknya pemakain kata “tomcat” yang lagi marak akhir-akhir ini. Menurut Om Ivan, apakah ngak sebaiknya padanan untuk serangga tomcat adalah penyerapan dari nama lokal jika memang tak ada istilah yang cocok dalam bahasa Indonesia.

    Terima kasih atas tanggapannya :)

    Fandra

  2. Mas Ivan, –saya baru tahu– bahwa kata “reviu” tidak ada dalam KBBI. Padahal kata itu sudah jamak digunakan, bahkan dalam perundang-undangan kita. Mohon penjelasan (termasuk: Apa padanan kata “review” dalam Bahasa Indonesia kalau begitu?).

  3. Selebritas atau selebriti? Sosialita, socialite, atau sosialitas?
    Twitterku @ _mia_renata. Tapi aku sudah mengikutimuuuuu :)

    Salam Malam!

  4. Juga istilah komputer:

    ‘bug’, ‘booting’, ‘to boot’, dan ‘boot-up’ dalam Bahasa Indonesianya?

    Terima kasih.
    Twitter: @andisugandi

    • Glosarium Badan Bahasa memadankan “bug” dengan “kutu” dan “boot” dengan “but” (!). Saya pikir “bug” tidak terlalu perlu dicari padanannya karena pola katanya sudah sesuai dengan kata bahasa Indonesia dan mengandung makna yang spesifik. Saya belum sreg dengan padanan “but” untuk “boot”, tetapi belum bisa memberikan alternatif lain.

    • Glosarium Badan Bahasa memadankan “task” dengan “tugas”. Saya sendiri cenderung menggunakan “pekerjaan” (atau “kerja”) untuk “task” karena “tugas” saya pakai sebagai padanan “todo”. Nah, yang belum saya tahu adalah padanan kata “job“.

  5. hasduk (kain segitiga yang dipakai di bagian leher seragam pramuka) itu belum masuk KBBI kah?

    @tegarmaji

  6. Mas Ivan, kalau mengenai tanda baca dan penggunaan huruf besar atau kecil bisa ditanyakan juga, kah? Saya belum terlalu mengerti perbedaan “:” dengan “;”. Lalu juga soal huruf besar atau kecil dalam jenis kalimat-kalimat tertentu. Kalau tidak bisa di sini, boleh minta rekomendasi bacaan atau situs yang bisa menjadi acuan?

    Terima kasih.

  7. (1) “Mengelilingi pulau-pulau kecil” ataukah “Mengelilingi pulau kecil-kecil” ?
    (2) “Mensyaratkan” ataukah “Menyaratkan” ?
    (3) “Mengaji” ataukah “Mengkaji”? (kt: kaji)

    terima kasih

    • (1) Mengelilingi pulau-pulau kecil. Lihat laman ini.
      (2) Mensyaratkan karena hukum KPST tidak berlaku untuk kata yang diawali konsonan rangkap (sy).
      (3) Mengaji dan mengkaji memiliki makna masing-masing. Ini salah satu pengecualian hukum KPST.

  8. Saya mau tanya, apakah yang benar itu Bandarlampung atau Bandar Lampung? Mohon penjelasannya beserta referensinya. Saya mencari di internet banyak yang mengatakan bandarlampung, tapi tidak sedikit juga yang mengatakan Bandar Lampung, saya tidak bisa menemukan referensi nya. Terima kasih.

    • Keduanya diserap dari bahasa daerah ngamen (Jakarta) dan ngemis (Jawa). Tampaknya belum ada keseragaman pola saat menyerap kata dengan simulfiks (“ng-” dan “ny-“) ke dalam ragam baku Indonesia. KBBI IV mencantumkan amen > mengamen > pengamen dan kemis > mengemis > pengemis.

  9. Bang Ivan, saya mau menanyakan beberapa hal yang saya kurang paham dan membuat saya bingung.

    1. Apakah kita sungguh memerlukan kata yang dan adalah? Karena bukankah kita bisa menulisnya begini: “Saya (adalah) seorang polisi,” “pisau (yang) tajam”, dan sebagainya? Mengapa?

    2. Pekuburan atau perkuburan? Pedesaan atau perdesaan? Di KBBI dicantumkan sebagai pekuburan dan pedesaan walau pun kata lain ditulis sebagai perusahaan, perkampungan, dan sebagainya. Mengapa?

    3. Ada beberapa jenis verba yang sepertinya tidak memerlukan imbuhan dalam penggunaannya. Contohnya: Saya pergi ke pasar. Mengapa bisa begitu? Bolehkah ini diterapkan pada semua verba? Contohnya: Saya perlu (memerlukan) sebuah pensil.

    4. Apakah “sebuah” boleh digunakan secara universal? Apakah contoh no. 3 harus diganti dengan sebatang? Mengapa?

    5. Jenis kata apa yang boleh diikat dengan “-kah”? Apa perbedaan kata tanya dengannya dengan yang tanpanya? Contoh: Apa dengan apakah.

    6. Variasi membuat. Satu contoh: Apakah kita bisa mengganti “membuatku marah” dengan “memarahkanku?”? Mengapa?

    7. Apakah menulis kalimat dengan dua verba betul? Contoh: Dia berubah menjadi sombong. Bukunya disobek menjadi dua.

    8. Pada dalam kasus tertentu. Diikat pada tiang atau diikat di tiang? Mengapa?

    9. Mengapa salah satu menu di situs ini ditulis “Situs macam apa ini?”? Berbedakah maknanya jika diganti dengan “Situs apakah ini?”?

    Dijawab satu demi satu bukan masalah, Bang Ivan. Mohon bantuannya dan maafkan saya karena menanyakan banyak hal sepele. :D

  10. Menambah contoh pertanyaan no. 8: Mengabdi pada sekolah dengan mengabdi di sekolah, rindu pada Indonesia dengan rindu di Indonesia, dan sebagainya.

  11. Pak Ivan, kalau dalam bahasa Inggris “on 2014”, diterjemahkan sebagai “pada tahun 2014” atau “pada 2014”? Dulu rasanya saya pernah baca lebih dianjurkan “pada tahun 2014”, tapi sekarang sepertinya saya lebih banyak membaca “pada 2014”.
    Terima kasih untuk jawabannya.

  12. Mas Ivan, saya ingin menanyakan beberapa hal:
    1. Padanan kata: bad mood, illfeel, bad tamper (BT), dan crack (istilah komputer).
    2. Kadang-kadang imbuhan me-kan tidak membutuhkan keterangan. Contoh kalimat:
    a. Saya menulis surat.
    b. Saya menuliskan surat untuknya. (perlu “untuknya”)
    c. Saya mendengar suara Anda.
    d. Saya mendengarkan musik. (tidak ada keterangan lain)
    Apakah betul demikian? Tolong berikan penjelasan.
    3. Bagaimana aturan menulis kalimat yang mengandung emoji? Apakah tetap diakhiri dengan tanda baca? Contoh:
    a. Kamu hebat. :) atau
    b. Kamu hebat :) (tanpa titik)
    4. Kata “ke-” pada kedua, ketiga, keempat, dst. ditulis serangkai. Bagaimana menulis ke (berapa) yang benar pada contoh kalimat “kamu anak ke (berapa)”?

    Terima kasih.

    Twitter: @agung_triadi

Comments are closed.